Coelacanth: Hidup, Utuh dan Tak Berubah Sejak Jutaan Tahun Lamanya

Diperkirakan banyak hidup sejak 360 juta tahun yang lalu dan telah punah kira-kira 65 juta tahun yang lalu, Coelacanth dengan mengejutkan muncul kembali dan ditemukan pada tahun 1938 pertama kali di wilayah Afrika Selatan, tepatnya di kuala sungai Chalumna. Yang mengejutkan dari penemuan ini adalah bahwa ikan yang sering disebut sebagai “fosil hidup” ini dinyatakan tidak berubah bentuk fisiknya sejak zaman 65 tahun yang lalu. Bentuk umum dari ikan ini adalah memiliki ekor seperti kipas,  sirip yang banyak dan juga berwarna biru dengan bintik-bintik putih di badannya.

Menurut beberapa artikel yang beredar di situs-situs maupun blog, Coelacanth adalah jenis ikan berparu-paru yang dipercaya sebagian ahli sebagai nenek moyang tetrapoda, yaitu nenek moyang binatang yang hidup di darat termasuk manusia. Ikan raja laut atau Coelacanth mempunyai habitat di lautan dalam, 700 meter di bawah permukaan laut. Meskipun terkadang ikan purba ini bisa berada di kedalaman laut 200 meter. Selain itu disebutkan pula bahwa umur seekor Ceolacanth bisa mencapai 100 tahun lamanya dan ukurannya mampu mencapai 2 meter.

Sejarah penemuan Ceolacanth dimulai dari tertangkapnya seekor ikan yang terlihat aneh di jaring hiu di kuala sungai Chalumna; Afrika Selatan yang cukup mengejutkan dunia. Para ahli beranggapan bahwa seharusnya ikan ini telah punah sejak berakhirnya masa Cretaceous atau disebut Masa Kapur (merupakan salah satu periode pada skala waktu geologi yang bermula pada akhir periode Jura dan berlangsung hingga awal Paleosen atau sekitar 145.5 ± 4.0 hingga 65.5 ± 0.3 juta tahun yang lalu. Periode ini merupakan periode geologi yang paling lama dan mencakup hampir setengah dari era Mesozoikum. Akhir periode ini menandai batas antara Mesozoikum dan Kenozoikum). Penemuan tersebut dialami oleh seorang Kapten kapal pukat. Merasa tertarik melihat ikan aneh tersebut, ia mengirimkannya ke museum di kota East London, yang ketika itu dipimpin oleh Nn. Marjorie Courtney-Latimer.

Seorang iktiologis (ahli ikan) setempat, Dr. J.L.B. Smith kemudian mendeskripsi ikan tersebut dan menerbitkan artikelnya di jurnal Nature pada tahun 1939. Ia memberi nama Latimeria chalumnae kepada ikan jenis baru tersebut, untuk mengenang sang kurator museum dan lokasi penemuan ikan itu.  Namun penemuan di Afrika Selatan tersebut bukanlah satu-satunya. Pada tahun 1952 Coelacanth kembali ditemukan di perairan sekitar pulau Komoro di Samudera Hindia sebelah barat sebagai habitatnya, di mana beberapa ratus individu diperkirakan hidup pada kedalaman laut lebih dari 150 m. Di luar kepulauan itu, sampai tahun 1990an beberapa individu juga tertangkap di perairan Mozambique, Madagaskar, dan juga Afrika Selatan. Namun semuanya masih dianggap sebagai bagian dari populasi yang kurang lebih sama.

Pada tahun 1998, enam puluh tahun setelah ditemukannya fosil hidup Coelacanth Komoro, seekor Ikan Raja Laut tertangkap jaring nelayan di perairan Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara. Ikan ini sudah dikenal lama oleh para nelayan setempat, namun belum diketahui keberadaannya di sana oleh dunia ilmu pengetahuan. Ikan raja laut secara fisik mirip Coelacanth Komoro, dengan perbedaan pada warnanya. Yakni raja laut berwarna coklat, sementara Coelacanth Komoro berwarna biru baja.

Ikan raja laut tersebut kemudian dikirimkan kepada seorang peneliti Amerika yang tinggal di Manado, Mark Erdmann, bersama dua koleganya, R.L. Caldwell dan Moh. Kasim Moosa dari LIPI. Penemuan ini kemudian dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature. Maka kini orang mengetahui bahwa ada populasi coelacanth yang kedua, yang terpisah menyeberangi Samudera Hindia dan pulau-pulau di Indonesia barat sejauh kurang-lebih 10.000 km. Belakangan, berdasarkan analisis DNA-mitokondria dan isolasi populasi, beberapa peneliti Indonesia dan Prancis mengusulkan ikan raja laut sebagai spesies baru Latimeria menadoensis.

Dua tahun kemudian ditemukan pula sekelompok coelacanth yang hidup di perairan Kawasan Lindung Laut (Marine Protected Areas) St. Lucia di Afrika Selatan. Orang kemudian menyadari bahwa kemungkinan masih terdapat populasi-populasi coelacanth yang lain di dunia, termasuk pula di bagian lain Nusantara, mengingat bahwa ikan ini hidup terisolir di kedalaman laut, terutama di sekitar pulau-pulau vulkanik. Hingga saat ini status taksonomi coelacanth yang baru ini masih diperdebatkan.

Pada bulan Mei 2007, seorang nelayan Indonesia menangkap seekor coelacanth di lepas pantai Provinsi Sulawesi Utara. Ikan ini memiliki ukuran sepanjang 131 centimeter dengan berat 51 kg ketika ditangkap.

Coelacanth memiliki ciri khas ikan-ikan purba, ekornya berbentuk seperti sebuah kipas, matanya yang besar, dan sisiknya yang terlihat tidak sempurna (seperti batu). Di Bunaken pernah ditemukan seekor coelacanth hidup berenang dengan bebasnya. Ukurannya kira-kira 2/3 tubuh orang dewasa dan tubuhnya berwarna ungu gelap. 

Sampai saat ini spesies ikan purba ini diketahui berjumlah 120 jenis spesies berdasarkan penemuan fosil sementara jumlah spesies yang ditemukan masih hidup adalah 2. Oleh IUCN Redlist Coelacanth Komoro (Latimeria chalumnae) berstatuskan Kritis (Critically Endangered) sedangkan Coelacanth Sulawesi bersatuskan Vulnerable (Rentan). CITES memasukkannya dalam daftar Apendiks I. Di Indonesia, ikan raja laut termasuk ikan yang dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999.

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia;
Filum: Chordata;
Kelas: Sarcopterygii;
Subkelas: Coelacanthimorpha;
Ordo: Coelacanthiformes;
Famili: Latimeriidae; Genus: Latimeria;
Spesies: Latimeria chalumnae; Latimeria menadoensis.
Nama Indonesia: Ikan raja laut
source: http://www,dinofish.com

Berdasarkan http://www.dinofish.com Coelacanth adalah ikan predator yg memangsa dengan cara menelan. Hal ini dapat dilihat dari bentuk mulut dan susunan giginya yang bisa dikatakan hampir tak bergigi

Coelacanth (artinya “duri yang berongga”, dari perkataan Yunani coelia, “κοιλιά” (berongga) dan acanthos, “άκανθος” (duri), merujuk pada duri siripnya yang berongga)

source: id.wikipedia.org
http://www.dinofish.com
http://arfurakingdom.blogspot.com/2012/07/coelacanth-atau-fosil-hidup.html

29 thoughts on “Coelacanth: Hidup, Utuh dan Tak Berubah Sejak Jutaan Tahun Lamanya

  1. Woahh, berarti para ilmuwan kecolongan ya. Masa dibilang udah punah tapi muncul lagi. Kereeeen ikannya!! *o*b

    Kakaaak, lain kali share sesutu yang berhubungan sama kebumian juga ya ^^
    Ilmu banget ini :Db

    • kimia? kalo soal zat-zat kayak karotenoid, lutein, flavonoid dan teman-temannya sih masih dalam lingkupku tapi kalau udah oxyde dan temannya sih mungkin aku masih perlu banyak baca hehe tapi thanks usulannya

  2. tahukah siapa ini?
    itu ikannya so cool~~ gede lagi xD enak ga ya ._.
    nanti bahas yang lain, misalnya hewan bermuka aneh gitu atau yang umurnya bisa mencapai rubuan(?) tahun

      • ahaha (yg terpikir saat masukin jesscoolnya ke air berubah jadi ikan yg di atas .___.)
        wkwk ayo tunggu aku gede(?) dulu baru boleh
        iya yg aneh, wah bang tega sama mantan sendiri xD

  3. wah.. makasih banget infonya. lumayan buat pr biologi tuh taksonominya😄
    artikelnya tentang film horror kek conjuring gitu? ato annabelle? #gaknyambung ijin follow blognya yah🙂

  4. Sisik Cosmoid ikan primitif yang keren
    (laka-laka) kata orang tegaL😀
    Tumpukan lapisan vitrodentine dari luar,
    dilapisi semacam enamel, ada cosmine jg lapisan terkuat & noncellular,
    wow ada isopedine dari substansi tulang.
    istimewa ikan ini . .

Tell Me What' Ya Tought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s